Posted by: luthor on: January 15, 2011
Mempelajari sesuatu memang sangat menarik, banyak Hal yang tercakup, sebab, akibat, Dan banyak lagi. Mempelajari agama juga Sama halnya. Dengan mempelajari teori2 agama, khususnya agama Buddha kemungkinan memang bisa sangat menyesatkan, sebutan orang adalah “ah… Kamu hanya pinter Di teori saja !”, sementara pelaksanaan nihil, itu seringkali menjadi bumerang, “tau” untuk diri sendiri = “tidak tau”, tidak tau apakah yg dia “tau” itu adalah sudah benar adanya.
Kemudian sering dikatakan bahwa orang yang “tau” banyak tentang teori dasar sebuah agama sering dikatakan/artikan “pinter”, “jago”, “Hebat” teorinya, apalah sebutan yg lebih pas untuk itu, padahal pelaksanaan tidak ada. Menurut saya orang tersebut justru orang yang paling “bodoh”, kenapa dikatakan “pinter teori”.
So… Kenapa bodoh, ya karena sudah “tau” teorinya, tapi koq tidak mau melaksanakan. Apa itu bukan bodoh namanya??? Logikanya, sudah teori dasar untuk membuat kue enak itu seperti Apa, koq gak berani/mau bikin, adalagi yang sudah lengkap pengetahuan / teori Dan bahan bakunya, coba bikin tapi hasilnya Ga sesuai dengan teori nya. Sebetulnya yang bener Adalah “tau” “tidak tau” teorinya, coba percaya bahwa apapun bisa kita kerjakan, baik ada teori maupun tidak.
Just from my BB Bold 9000
Posted by: luthor on: December 26, 2010
Beberapa hari terakhir sebelum tutup tahun 2010, saya kembali duduk Di hadapan mandala pusaka Gohonzon, meng-instropeksi diri, Apa saja yg sudah saya capai selama setahun ini, bagaimana pencapaiannya?.
Ya pikir-pikir, 2009 tozan belum bisa tercapai, kenapa yah? Hmmm…, saya belum betul-betul bisa merasakan kekuatan Dan karunia Gohonzon, bagaimana bisa sampai ke Taisekiji, Apa yang mau saya lakukan Di jepang sana?, travelingkah???, hehehe,
Harusnya Saya bisa berterima kasih kepada Dai Gohonzon, tapi pertanyaannya Apa yang saya harus terimakasihkan, ya… Jawabannya kembali lagi kepada bahwa saya belum betul-betul merasakan kekuatan Gohonzon. Kenapa bisa sampai tidak merasakan kekuatan Gohonzon? Hmmm… Ternyata saya belum betul-betul jalankan sesuai dengan kehendak Buddha. Tracknya selalu belok-belok ditengah jalan. Tarikan karmanya tidak betul-betul saya lawan dengan kekuatan dunia Buddha, lebih banyak saya biarkan saja, saya acuhkan saja, sehingga sudah 2 tahun ini perubahan hidup yang saya doakan, tidak signifikan terwujud. Karena doa hanya tinggal doa, awal tahun doa, tetapi pencapaian tidak ada, proses tidak ada, tidak ada action, maka setahun lewat hasilnya masih nihil. Tahun 2011 ini harus kembali saya mendoakan kembali tekad-tekad saya yang belum terwujud ditambah dengan doa syakubuku Dan target jalan sesuai dengan kehendak Buddha sehingga bisa rombak karma Dan betul-betul merasakan kekuatan Gohonzon, So saya bisa berangkat sekeluarga ke Jepang 2015 untuk berterima kasih atas maitri karuna Dan karunia kebajikan dari Gohonzon.
Just from my BB Bold 9000
Posted by: luthor on: December 19, 2010
Thursday, December 16, 2010
Hubungan orang tua dan anak sudah menjadi fenomena yang unik, dimana orang tua ingin anaknya mengikuti keinginannya, sedangkan anak juga ingin dimengerti orang tuanya. Ini memang hal yang susah untuk disatukan, artinya antara keinginan anak dan keinginan orang tua seringkali berseberangan.
Problemnya, apakah ini salah orang tua ? atau salah anak ?
Mari kita berfikir sedikit kebelakang, dengan niat tidak bermaksud menyalahkan orang tua, tapi dilihat dari hasil diskusi dengan beberapa orang tua, baik muda maupun generasi yang cukup tua, semua tidak mau mengakui dan melihat bahwa anak tidak sejalan dengan apa yang didambakan atau diinginkan orang tua, atau tidak mau mengerti maksud orang tua, itu dikarenakan tidak diajarkan untuk mengerti orang lain. Sifat buruk yang timbul dari sang anak, tidak mau diakui sebagai sifat buruk orang tua itu sendiri.
Sebagai contoh, ketika kita (orang tua) melihat kelakuan anak orang lain tidak baik, langsung tanpa ragu-ragu kita mengatakan bahwa itu salah orang tua nya yang tidak mendidik anaknya dengan baik dan tegas. Bagaimana dengan sifat buruk anak kita sendiri ? apakah itu harus kita akui bahwa itu artinya kita kurang mengajari anak kita sendiri.
Suatu hari saya pernah berdiskusi dengan seorang bapak yang punya pemikiran cukup modern, dia bertanya “apa yang paling susah untuk menjadi orang tua, repot atau tidak ?”
Saya menanggapi itu dengan jawaban bahwa, hal yang paling sulit menjadi orang tua itu karena kita harus belajar lagi dan lagi untuk bisa mengikuti perkembangan anak-anak kita, karena jaman juga sudah beda, bakat manusia juga pasti berbeda. Dan juga paling sulit ketika kita harus menerima kenyataan bahwa sifat buruk yang ada pada anak kita adalah sama dengan sifat buruk kita.
Nah sekarang apa yang harus dilakukan oleh orang tua ataupun anak ?
Saya berfikir bahwa orang tua seharusnya bisa belajar untuk bisa mengerti dunia anak sesuai dengan bakat dan jamannya, sedangkan anak harus belajar memahami bahwa orang tua cinta dan sayang sama anaknya.
Memang susah untuk bisa menyadari dan menerima bahwa kekurangan anak adalah kekurangan kita sebagai orang tua,
Saya mulai belajar dari itu, saya belajar dari hubungan kakak saya dan anaknya, saya belajar dari hubungan teman saya dan anak mereka masing-masing, saya mengamati, mencari referensi, dengan harapan saya bisa melakukan yang terbaik untuk anak-anak saya kelak, walaupun kadang sering sakit hati mendengar seloroh mereka yang rasa-rasanya berharap kalo nanti anak saya bertabiat jelek. Sehinga mereka ingin melihat bagaimana saya menderitanya saya menghadapi itu.hahaha
Jujur ngomong itu sebuah tantangan sekaligus sebuah ketakutan saya juga, karena toh saya tidak lepas dari karma dan jodoh karma harus ketemu anak saya, dan menjadi satu kesatuan keluarga berasama anak tersebut.
Pendapat saya, sebagai orang tua kita tidak bisa mendidik anak kita dengan prinsip “kebenaran”, bahwa anak harus patuh kepada orang tua, dengan alasan setiap orang tua selalu ingin anaknya jadi anak “baik”. Anak harus dididik dengan luwes, artinya orangtua harus menjalin komunikasi yang baik dengan anak, mendidik anak dengan kita menceritakan juga kesalahan atau aib yang pernah kita lakukan dulu, sehingga anak akan paham/mengerti, ini lebih baik daripada anak itu patuh.
Seringkali orangtua meninggikan wibawa supaya anak “takut” kepada nya, ini juga menjadi satu prinsip yang perlu dipertanyakan. Menurut bimbingan dari setiap pertemuan agama Buddha BDI, anak justru harus bisa dekat sama orang tua nya, bukannya takut, kalau takut, maka susah untuk menjalin komunkasi dengan anak. Anak tidak mungkin mau cerita-cerita seputar pergaulan dan keinginan mereka kepada orang tua, karena anak merasa, “ ntar dimarahin, ntar diomelin, dll”. Sehingga anak lebih banyak bercerita kepada teman-teman, pacar.
Posted by: luthor on: November 26, 2006
“Jangan gangu banci…jangan ganggu banci…jangan ganggu !!!
Jaman sekarang sudah bukan maling teriak maling lagi istilah yang popular di masyarakat. Tapi bahkan ada banci teriak banci juga.. hehehehe
Tak heran juga sekarang orang dengan gampang juga mengatai seseorang dengan kata-kata banci juga, tanpa piker-pikir apa yang disombongkan olehnya juga tentang kebanciannya juga.
Tugas dan tujuan boleh saja mulia dan agung, kalo boleh meniru logat orang bali, “Saya settuju ittu !”, cuma karena terlalu bar-bar jadinya kebablasan, dan apa yang dilakukan malah tindakan-tindakan yang justru tindakan yang dikatainya sendiri dengan sebutan “banci” itu.
Jauh sebelum kegiatan besar di kotaku, aku sudah bercerita kepada teman-teman satu kumpulanku bahwa kegiatan nasional kali ini akan menjadi sebuah revolusi buat kotaku.
Sebuah revolusi yang akan menentukan eksistensi kotaku.
Eh… beneran juga terjadi revolusi, konon dari pemerintah pusat (yang pasti bukan utusan Soekarno) mengirimkan seorang petinggi dari sana untuk membina selama periode tertentu di kotaku. Bo Nang U, yang oleh orang-orang cina pasti di panggil dengan Ah-U ato A-u muncul di kotaku dan bener-bener melakukan revolusi besar-besaran. Tak heranlah, panggilan Ah-U/A-u sangat cepat memasyarakat, karena memang kotaku mayoritas cina semua. Mereka sudah terbiasa untuk memanggil seseorang dengan nama pendek saja, misalnya A-khiong, Along, Abong, dll pokoke semua pasti di kasi huruf depan “A”. Konon kabarnya juga A-u tidak begitu bisa diterima di kotaku, alhasil dia mengatai orang-orang disini dengan sebutan “banci”. Hanya dikarenakan ada kebijakan yang menurutku justru “kebijakan banci” menjadi sebuah polemic dan perbincangan di belakang A-u. Ada aja spion yang senengnya menjilat biji & du**r nya A-u, yang justru memprovokasi permasalah itu jadi muncul ke permukaan.
Ahh… tapi A-u biarlah A-u, biarlah dia pergi dengan tujuannya yang agung.
Justru yang ada dibenakku, apa yang telah dilakukan oleh A-u di kotaku menjadi sebuah cambuk yang harus bener-bener di plototi dengan serius. Kekompakkan petinggi-petinggi jadi dipertanyakan. Untungnya A-u itu utusan pusat, coba saja kalo A-u tuh spynya SGI ato yang sejenis. Keliatan sekali bahwa dengan di resmikannya gedung baru di kotaku, harusnya petinggi-petinggi disini semakin solid untuk bisa memperjuangkan nasib kalbar. Konsen dan focus serta tidak membiarkan bawahan-bawahannya jalan sendiri.
Saying sungguh sayang, mungkinkah ini bisa menjadi sebuah pemikiran… ?
A-u…A-u… jangan gangu banci
Posted by: luthor on: November 22, 2006
sebenarnya sepi seh….
“sebenarnya” , padahal emang bener sepi, tapi karena masih penuh dengan harapan, makanya jadi sedikit menghibur dengan kata “sebenarnya”.
berat memang, menjadi “sesuatu” yang sudah ditinggalkan orang karena muncul “sebuah” yang baru, yang lebih bagus, lebih luas, lebih mentereng, lebih cihuy. Pada akhirnya yang lama ditinggalkan. Dulunya kita memang sangat populer. Kasta menengah keatas, kata orang. Kasian juga sekarang hidup segan mati tak mau, pelan-pelan mulai ditinggalkan oleh penghuni-penghuni yang mulai bosan dan kecewa.
Beberapa hari yang lalu datang seorang penguasa baru, dengan kata-kata yang cukup aneh
“saya datang tidak dengan solusi, dan tidak dengan membawa bermilyar-milyar uang, tapi saya mau memperbaiki !.
Kenapa aneh… ?
Karena, seorang gadis, walaupun cantik, tapi tidak pernah merawat diri, mulai keropos satu persatu, penampilan sudah tidak menarik lagi, tinggal di pedalaman, walaupun di pedalaman tersebut hanya dia gadis satu-satunya. Kalau memang tidak menarik lagi, lelaki akan mengembara kemanapun untuk mencari yang lebih menarik. Itu lelaki tidak pernah pasrah pada hidupnya. Datanglah mak Comblangnya, tidak bermaksud mendandani, tidak bermaksud memperindah, tidak datang dengan solusi, akan jadi apa gadis itu. Jawabannya, tidak akan jadi apa-apa ! hanya tunggu ajal saja !
Jadi… sebuah pengharapan yang berharap akan terjadi keajaiban…
save me … ! i wanna life…. i wanna give you everything !… only for you…
Posted by: luthor on: November 21, 2006
Aaapa seh yg kamu lakukan, tugas mulia seperti apa yang kamu pikirkan, apa hanya dengan menjatuhkan orang kamu bisa senang…?
Buatku, kamu cuma seorang penghianat dan penjilat yang malang melintang di jagat ini tanpa tau jelas apa seh tujuan hidupmu sendiri ! so.. jangan bawa-bawa orang lain dalam kekacauan hidup yg kamu buat
Adalah sebuah penghianatan ketika kamu menyeretku dengan mulut manis dan iming-iming bahwa aku tidak akan jalan sendiri. Pada akhirnya kamu juga hanya bisa mencari-cari kesalahan orang.
ternyata apa yang kamu inginkan hanya menyaksikan jatuhnya orang-orang yang kamu anggap tidak sejalan dengan apa yang kami pikirkan. begitu mulianya apa yang kamu jalankan.
hah… ternyata iming-iming itu juga yang kamu pergunakan untuk menyeret mereka-mereka.
Tetapi pada akhirnya aku harus mengakui… kamu hebat… two thumbs up !!